Lebah Tanpa Sengat

Lebah tanpa sengat merupakan kelompok lebah eusocial seperti lebah madu namun kurang dikenali dan tergolong kelompok pantropical. Diperkirakan hanya ada 11 spesies lebah madu yang tergolong dalam genus tunggal yaitu Apis sedangkan ada setidaknya ada 600 spesies lebah tanpa sengat dari sekitar 60 genera (Rasmussen et. al, 2010). Lebah tanpa sengat memiliki peran penting sebagai agen penyerbukan di daerah tropis dan dapat ditemukan dengan sangat banyak di hutan dataran rendah di Asia Tenggara (Sakagami dkk, 1983).

Lebah tanpa sengat terdapat di daerah tropis dan sub-tropis atau wilayah yang dilalui garis khatulistiwa. Di Indonesia sendiri, penyebaran lebah tanpa sengat sangat beranekaragam. Di Sumatera, terdapat sekitar 31 jenis lebah tanpa sengat, di Kalimantan 40 jenis, di Jawa 14 jenis, dan di Sulawesi terdapat 3 jenis lebah tanpa sengat (Sakagami dkk, 1983)

Tetragonula laeviceps Smith merupakan salah satu jenis lebah tanpa sengat yang tersebar hampir di seluruh daerah Indonesia, terutama Sumatera dan Jawa. Lebah tanpa sengat yang umum dikenal sebagai lebah klanceng ini memiliki ukuran tubuh yang kecil dan ukuran koloni yang sedang serta kurang agresif. Lebah klanceng secara alami bersarang di dalam pohon hutan dan mudah bersarang pada konstruksi bangunan manusia (Sakagami dkk., 1983; Michener, 2013).

Taksonomi Tetragonula Laeviceps (Interagency Taxonomic Information System, 2020)

  •  Kingdom: Animalia
  • Phylum : Arthropoda
  • Class: Insecta
  • Order: Hymenoptera
  • Family: Apidae
  • Subfamily:  Apinae
  • Tribe: Meliponi
  • Genus: Tetragonula
  • Species: T. laeviceps

Berbeda dengan lebah madu, lebah tanpa sengat tidak memiliki sengat namun bisa menggigit untuk melindungi koloni dari serangan predator.  Selain itu, lebah tanpa sengat menghasilkan propolis yang jauh lebih banyak dibandingkan lebah madu untuk melindungi koloni dan sumber makanan yang ada di dalam sarang (Kothai dan Jayanti, 2015).

Setiap koloni lebah memiliki lebah ratu (betina fertil), drone (jantan) dan pekerja (betina steril) (Michener, 2013). Lebah ratu dapat hidup ± 4 tahun. Lebah ratu berfungsi sebagai penghasil telur dan juga sebagai penghasil feromon yang merupakan senyawa kimia untuk untuk menjaga kesatuan koloni (Riendriasari dkk., 2017).

Lebah pekerja bertugas untuk mengambil nektar, polen dan mengumpulkan resin untuk menghasilkan propolis (Inoue dkk., 1984). Lebah tanpa sengat umumnya menghasilkan madu dengan mengambil nektar dari bunga, menghasilkan propolis dengan mengkonsumsi resin serta memproduksi polen lebah dari serbuk sari bunga (Chuttong dkk., 2014).

Lebah jantan tidak bekerja, lebah jantan bertugas mengawini calon lebah ratu dengan lama hidup sekitar tiga bulan.  Tugas utama lebah jantan adalah menjaga sarang dan membersihkan sarang dari kotoran (Chuttong dkk., 2014).

Lebah pekerja adalah lebah betina yang tidak sempurna yaitu  tidak bertelur seperti ratu dengan masa hidup sekitar 10 minggu.  Tubuhnya lebih kecil dari lebah jantan, dan agresif. Tugas lebah pekerja paling berat yaitu memberi makan lebah ratu dan larva, membuat sarang, mencari nektar dan polen, memproses dan menyimpan madu, mencari air dan lainnya (Chuttong dkk., 2014).

Lebah tanpa sengat seperti ditunjukkan pada Gambar 1 rutin mengumpulkan polen dan nektar dari tanaman yang ada di sekitarnya sebagai sumber protein dan karbohidrat. Selain itu, lebah tanpa sengat juga rutin mengumpulkan resin tanaman yang ada di sekitarnya untuk membangun dan memperbaiki struktur sarang serta melindunginya dari serangan predator.

Gambar 1 Tetragonula laeviceps
(Pangestika et al., 2017)

Lebah Tetragonula laeviceps biasa hidup di dalam lubang-lubang pohon, celah dinding, lubang bambu dengan membentuk sarang. Sarang tersebut memiliki lubang kecil sebesar 1 cm sebagai pintu keluar-masuk lebah (Sadam et al., 2016). Struktur sarang lebah tanpa sengat sangat berbeda dengan lebah madu. Sarang lebah tanpa sengat tidak berbentuk heksagonal seperti lebah madu. Setiap spesies dari lebah tanpa sengat memiliki keunikan geometrinya tersendiri.  Lebah Tetragonula laeviceps misalnya mempunyai susunan koloni berbentuk klaster dengan struktur pot berbentuk oval yang terbuat dari propolis dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan telur (koloni) dan juga tempat penyimpanan makanan (madu dan serbuk sari) (Sakagami dkk., 1983) seperti ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3.

Gambar 2 Sel telur Tetragonula laeviceps tampak A) atas dan B) samping
(Formicki dkk., 2013)
Gambar 3 Struktur pot madu lebah Tetragonula laeviceps
(Fadhilah & Rizkika, 2015)

Budidaya lebah tanpa sengat dapat dilakukan dengan mudah oleh siap saja, baik oleh pembudidaya lebah, petani maupun warga yang tinggal di perkotaan. Lebah tanpa sengat dapat hidup dengan baik di Indonesia yang mempunyai rentang suhu sekitar 25 – 35°C dan tidak perlu ada banyak tanaman berbunga di sekitarnya. Namun, perlu dipastikan ada tanaman yang dapat menjadi sumber resin, nektar dan polen di sekitarnya seperti mangga, nangka, cempedak dan lain-lain. Oleh karena itu, budidaya lebah tanpa sengat dalat dilakukan dengan mudah hampir di seluruh daerah di Indonesia. Namun, perlu dipastikan supaya lokasi sarang lebah jauh dari koloni semut yang dapat memganggu keberlangsungan aktivitas lebah tanpa sengat.  

Referensi:

  • Chuttong, B., Chanbang, Y., & Burgett, M. (2014). Meliponiculture. Bee world, 91(2), 41-45.
  • Fadhilah, R., & Rizkika, K. (2015). LABA Lebah Tanpa Sengat. Jakarta: Trubus Swadaya.
  • Formicki, G., Gren, A., Stawarz, R., Zysk, B., & Gal, A. (2013). Metal Content in Honey, Propolis, Wax, and Bee Pollen and Implications for Metal Pollution Monitoring. Polish Journal of Environmental Study, 99-106.
  • Interagency Taxonomic Information System (2020). https://www.gbif.org
  • Kothai, S., & Jayanthi, B. (2015). A study on propolis of stingless bees reared from the most commercial hub of Chennai, Tamilnadu, India. International Research Journal of Environment Science, 4(7), 39-47.
  • Michener, C. D. (2013). The Meliponini. In Vit P, Pedro SRM, Roubik D. W., eds. Pot-Honey: A legacy of stingless bees (hal. 153-171). New York: Springer Science.
  • Pangestika, N. W., Atmowidi, T., & Sih, K. (2017). Pollen Load and Flower Constancy of Three Species of Stingless Bees (Hymenoptera, Apidae, Meliponinae). 28(2).
  • Rasmussen C., & Cameron, S.A. (2010). Global stingless bee phylogeny supports ancient divergence, vicariance, and long-distance dispersal.  Biological Journal of the Linnean Society, 99, 206-232.
  • Riendriasari, S.D., & Krisnawati, K. (2017). Produksi Propolis Mentaj Lebah Madu Trigona spp di Pulau Lombok, Jurnal Hutan Tropis.
  • Sadam, B., Hariani, N., & Fachmy, S. (2016). Jenis Lebah Madu Tanpa Sengat (Stingless Bee) di Tanah Merah Samarinda). Samarinda: Universitas Mulawarman.
  • Sakagami, S.F., Inoue, T., Yamane, S., & Salmah, S. (1983) Nest architecture and colony composition of the Sumatran stingless bee Trigona (Tetragonula) laeviceps. Kontyu, 51, 100–111.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =

× Hello, can i help you ...?